SLensa Sampit
Sejarah & Budaya Dayak-Melayu Kotawaringin Timur

Jejak Kawedanan Sampit: Warisan Dayak dan Melayu di Kotawaringin Timur

Menelusuri jejak kawedanan lama di Sampit, kota di tepi Sungai Mentaya tempat budaya Dayak dan Melayu berpadu di Kotawaringin Timur.

Jejak Kawedanan Sampit: Warisan Dayak dan Melayu di Kotawaringin Timur

Hal Penting

  • Sampit adalah ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah
  • Kota ini dibelah Sungai Mentaya dan tersebar di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang
  • Penduduk 166.733 jiwa pada 2019 menurut BPS Kotawaringin Timur
  • Luas wilayah 1.365,95 km² dengan dataran rendah dan rawa, ketinggian 0-25 meter di atas permukaan laut
  • Pada awal kemerdekaan, Sampit dibagi tiga kawedanan: Sampit Barat, Sampit Timur, dan satu lagi

Kota yang Tumbuh di Tepi Mentaya

Kalau kamu berdiri di dermaga kecil di pinggir Sungai Mentaya sore hari, kelotok masih hilir-mudik membelah air cokelat, menurunkan pedagang dan penumpang persis seperti puluhan tahun lalu. Sungai inilah yang membelah Sampit menjadi dua sisi dan sekaligus menjadi alasan kota ini ada. Sampit bukan kota yang lahir dari jalan raya, melainkan dari air. Sebelum truk dan aspal, Mentaya adalah jalan utama yang menghubungkan pedalaman dengan muara, mengangkut rotan, damar, dan hasil hutan menuju perdagangan yang lebih luas.

Secara administratif, Sampit adalah ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur di Kalimantan Tengah. Kotanya tersebar di dua kecamatan, Mentawa Baru Ketapang dan Baamang, dengan penduduk sekitar 166.733 jiwa pada 2019 menurut data BPS setempat. Wilayahnya seluas 1.365,95 km², sebagian dataran rendah dan sebagian rawa, dengan ketinggian hanya 0 sampai 25 meter di atas permukaan laut. Angka-angka itu menjelaskan banyak hal soal ritme hidup warganya: air, pasang surut, dan sungai menentukan cara orang bergerak.

Warisan Kawedanan yang Membentuk Kota

Istilah kawedanan mungkin asing bagi telinga muda hari ini, tetapi itulah bentuk pemerintahan yang membingkai Sampit pada awal kemerdekaan Indonesia. Waktu itu Sampit berada di daerah Kotawaringin dan dibagi menjadi tiga wilayah administratif berbentuk kawedanan, di antaranya Sampit Barat dan Sampit Timur. Pembagian ini bukan sekadar garis di peta. Ia mengikuti logika sungai, dengan sisi barat dan timur Mentaya yang punya karakter permukiman berbeda.

Warisan pembagian lama itu masih terasa dalam cara warga menyebut arah dan menandai kampung. Orang tua di Sampit kerap merujuk sisi seberang, hulu, dan hilir sebagai penanda ruang, bukan nama jalan. Jejak kawedanan ini menyimpan cerita tentang bagaimana negara muda mengatur wilayah pedalaman Kalimantan yang luas dan berair, dengan pusat-pusat kecil yang mengandalkan sungai sebagai penghubung. Memahami sejarah ini membantu menjelaskan mengapa Sampit hari ini berkembang memanjang mengikuti tepian Mentaya, bukan melingkar seperti kota-kota yang lahir dari persimpangan darat.

Dayak dan Melayu dalam Kehidupan Sehari-hari

Di pasar pagi Sampit, dua warna budaya berbaur tanpa banyak dijelaskan. Masyarakat Dayak dengan akar kuat di sungai dan hutan hidup berdampingan dengan komunitas Melayu yang lekat dengan perdagangan dan permukiman tepi air. Perpaduan ini terbaca dari cara orang berbicara, dari nama-nama tempat, sampai menu warung yang menyandingkan ikan sungai bakar dengan bumbu yang akrab di lidah kedua kelompok.

Sungai kembali menjadi benang merah. Ikan hasil tangkapan dari Mentaya dan anak-anak sungainya masih jadi lauk utama banyak keluarga. Kehidupan bertani dan berkebun di lahan rendah, ditambah aktivitas dagang di sepanjang tepi kota, membentuk ekonomi lokal yang bersahaja tetapi hidup. Bagi pendatang, kesan pertama Sampit biasanya soal keramahan yang tidak dibuat-buat, sebuah ciri kota sungai yang terbiasa menyambut orang lewat dermaga. Perpaduan Dayak dan Melayu di sini bukan atraksi yang dipajang, melainkan cara hidup yang mengalir pelan, sama seperti arus Mentaya yang tak pernah benar-benar berhenti.

Sering Ditanyakan

Di mana letak kota Sampit?

Sampit adalah ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur di Kalimantan Tengah. Kotanya berada di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Kecamatan Baamang, dibelah oleh Sungai Mentaya.

Apa itu kawedanan Sampit?

Pada awal kemerdekaan, Sampit berada di daerah Kotawaringin dan dibagi menjadi tiga wilayah administratif berbentuk kawedanan, di antaranya Sampit Barat dan Sampit Timur.

Berapa jumlah penduduk Sampit?

Sekitar 166.733 jiwa pada 2019 menurut data BPS Kabupaten Kotawaringin Timur.

Mengapa Sungai Mentaya penting bagi Sampit?

Sungai Mentaya membelah kota dan sejak dulu menjadi jalur utama transportasi, perdagangan, serta sumber ikan bagi warga, sehingga kota tumbuh memanjang mengikuti tepiannya.